Lukisan Antik Tuan Plik
Sabtu, 20 April 2013
Lukisan Antik Tuan Plik
Oleh: Rae Sita Patappa
Saudagar
Plik senang mengoleksi barang antik. Sebenarnya ia tak tahu harga sebenarnya
dari barang-barang antik itu. Tetapi, ia bangga jika ada yang memuji koleksinya
yang berharga mahal.
Suatu
ketika, Plik mengunjungi sebuah toko barang antik. Toko itu baru saja buka.
Sejumlah kotak dan berbagai bungkusan bertebaran di mana-mana. Seseorang sedang
memasang sebuah lukisan di pigura kayu.
“Selamat pagi. Nama saya Plik. Apakah anda pemilik toko
ini?” tanya Plik. Orang itu tersentak kaget.
“Oh, Tuan Plik,” katanya sambil menggantung lukisan,
tetapi matanya menatap ke arah Plik.
“Pemilik
toko ada di dalam. Sebentar, saya panggilkan.”
Plik
berdiri menunggu di depan lukisan yang baru digantung. Lukisan itu tidak jelas
bergambar apa. Hampir seluruhnya gelap dengan lingkaran putih kecil di sudut
kiri bawah. Plik menduga lukisan itu pasti lukisan abstrak yang mahal. Plik
berniat membelinya.
Sesaat
kemudian, pintu toko terbuka. Seorang laki-laki tua berkaca mata berjalan masuk.
Ia berhenti tepat di depan lukisan yang Plik lihat tadi. Plik jadi gelisah. Ia
khawatir orang itu juga berniat membeli lukisan itu. Pada saat itu, keluarlah
pemilik toko itu. Ia menghampiri Plik.
“Saya
Tony, pemilik toko ini. Ada yang bisa saya bantu, Tuan Plik?” tanyanya.
Plik
masih terdiam sambil menatap laki-laki tua berkaca mata tadi. Tiba-tiba,
laki-laki tua itu menoleh ke arah mereka.
“Tony,
bisakah kau ke sini sebentar?” panggilnya pada pemilik toko.
Pemilik
toko bergegas menghampiri laki-laki itu. Mereka sudah saling mengenal rupanya,
pikir Plik. Ah! Plik langsung tersentak. Laki-laki itu pasti mau membeli
lukisan yang sudah ia incar sejak tadi!
“Tu
... tunggu!” seru Plik sambil melangkah mendahului Tony. “Aku sudah berniat
membeli lukisan itu lebih dulu!”
Laki-laki
tua itu menatapnya bingung, lalu menunjuk lukisan di hadapannya.
“Maksudmu,
lukisan ini?”
Plik
mengangguk yakin.
“Tapi
.. ,” ujar laki-laki itu lagi.
“Aku
akan membelinya dengan harga tinggi. 100 keping emas!” tegas Plik.
Laki-laki
itu memegang pigura lukisan.
“Bukan
begitu,” ujarnya. “Lukisan ini harganya tiga...”
“Kalau
harganya 300 keping emas, aku akan beli dengan harga dua kali lipatnya, 600
keping emas!” potongnya dengan suara nyaris seperti marah.
Plik
takut lukisan yang ia inginkan itu terjual pada laki-laki itu.
“Meskipun
kalian saling mengenal, pemilik toko ini harus bersikap adil. Pak Tony harus
menjual lukisan pada pembeli dengan tawaran tertinggi!” bentak Plik.
Pemilik
toko termangu saat Plik memanggil dua pelayannya yang menunggu di luar toko.
Ternyata mereka sudah membawa uang.
“Tiga
kantung ini, masing-masing berisi 200 keping emas. Setuju?” desak plik.
Tony
akhirnya mengangguk meskipun tetap terlihat bingung. Plik bergegas pulang
membawa lukisan barunya dengan rasa puas. Plik membuat pameran untuk menyambut
lukisan antik terbarunya. Masyarakat kota itu diundang untuk menyaksikan
lukisan antik terbarunya. Saat melihat lukisan itu, para pengunjung menunjukkan
reaksi beragam. Ada yang terkejut, mengernyitkan dahi, atau menggaruk kepala
bingung. Ada pula yang memberi pujian tentang betapa beruntungnya Plik memiliki
lukisan itu.
Plik
sangat bangga. Jika ada tamu yang tampak bingung, Plik menganggap orang itu tak
mengerti seni. Tetapi jika ada tamu yang memuji, Plik merasa bangga. Berarti ia
tidak salah membeli lukisan antik yang mahal itu.
Tiba-tiba,
Plik melihat laki-laki tua berkaca mata yang kemarin dijumpainya di toko. Plik
bergegas menghampiri. Ia yakin, laki-laki itu sangat ingin melihat lukisan yang
kemarin gagal ia beli.
Saat
berjalan di antara tamu, Plik melihat beberapa tamu lainnya menghampiri
laki-laki itu dengan hormat. Beberapa orang memberitahunya bahwa laki-laki itu
adalah ahli barang antik yang terkenal.
Wah!
Plik merasa beruntung. Orang itu pasti bisa menjelaskan kehebatan lukisan
barunya pada semua orang. Laki-laki itu menjabat tangan Plik dengan hangat dan
tersenyum. Tetapi sejenak kemudian, wajahnya terlihat panik.
“Namaku
Alfred. Maaf, bolehkah aku melihat lukisan yang kau beli kemarin? Ada hal
penting yang harus kusampaikan,” ujarnya.
Dengan
cemas, Plik mengantarnya ke tempat lukisan itu. Alfred menatap lukisan itu dan
Plik, bergantian.
“Aku
ingin menjelaskan nilai lukisan ini padamu,”ujar Alfred sambil menghela nafas,
lalu berbisik.
“Ini
lukisan pemandangan hutan di malam hari. Tapi nilainya hanya 3 keping perak.
Lukisan ini hanya hiasan dinding ruang toko milik Tony. Bukan barang antik yang
akan dijual. Pelayan toko yang baru, memasangnya secara terbalik di pigura.
Waktu kutanya, ia bilang sedang melihatmu waktu menggantung lukisan itu.”
Plik
pucat dan membisu. Kini ia mulai mengerti isi lukisan di depannya itu.
Lingkaran kecil berwarna putih di kiri bawah lukisan itu adalah gambar bulan
purnama di malam hari.
Alfred
berkata pelan. “Seharusnya aku juga memberi tahumu saat di toko itu, tapi ...”
Ya,
tetapi tak sempat, pikir Plik. Karena saat itu, ia tak mau mendengarkan
penjelasan siapapun. Plik tidak mengerti seni, tetapi gengsi untuk bertanya.
Sumber: Majalah Bobo edisi 42, tahun
XXXVIII
Label: Cerita Anak, Hiburan, Seni