Wangi Parfum Pada Sobekan Kain
Sabtu, 20 April 2013
Wangi Parfum Pada Sobekan Kain
Oleh: Beti Rohaini
Pagi ini, Bobi datang pagi-pagi sekali seperti biasanya.
Ia melihat Pak Wahid, penjaga sekolah, berdiri terdiam di depan ruang guru.
Ruang-ruang kelas belum dibuka dan halaman belum disapu. Bobi heran. Tidak
biasanya Pak Wahid lalai pada pekerjaannya.
Biasanya, ketika Bobi sampai di sekolah, Pak Wahid sudah
selesai bersih-bersih. Kadang, Bobi membantunya memasukkan sampah ke tong
sampah. Tetapi pagi ini, seperti ada sesuatu yang terjadi. Bobi menghampiri Pak
Wahid.
“Ada apa, Pak? Mengapa
bengong dan ruangan lainnya belum dibuka?”
Pak Wahid terkejut. “Eh, Bobi! Oh iya, bapak belum buka
ruangan-ruangan!”
Pak Wahid terburu-buru menuju ruang kelas untuk membuka
pintu. Bobi melihat ke dalam ruang guru. Apa yang membuat Pak Wahid gelisah?
Sesaat kemudian, pertanyaan itu terjawab. Pak Wahid bercerita pada Bobi.
“Komputer di ruang kepala sekolah dan ruang guru hilang!”
Bobi terbelalak kaget.
“Bapak belum sentuh apa pun, kan? Saya yakin, sidik jari
pencurinya pasti tertinggal. Soalnya, si pencuri kan, harus mencopot
kabel-kabel komputer. Kecuali, penculinya pakai sarung tangan. Bapak sudah
lapor pada Pak Kepala Sekolah?”
“Belum. Bapak masih terkejut. Lihat! Pintu ruangan ini
tidak rusak. Bapak tadi membukanya dengan kunci. Sudah pasti sidik jari bapak
tertinggal disini.”
Wajah Pak Wahid kembali gelisah. Bobi juga bingung. Kalau
sidik jari Pak Wahid sudah tertinggal, berarti Pak Wahid bisa dijadikan
tersangka. Itulah yang terjadi di film-film detektif yang sering ditontonnya.
Ah, padahal Bobi yakin, Pak Wahid tak mungkin mencuri.
Karena keadaan darurat,
Bobi memakai telepon sekolah. Ia menelpon Om Doni. Adik mamanya itu
bertugas di Polres. Bobi berharap Om Doni bisa melacak pencuri yang sebenarnya.
Sementara itu, Pak Wahid pergi ke rumah Pak Kepala Sekolah yang tak jauh dari
sekolah.
Sambil menunggu om-nya datang, Bobi meneliti ruangan guru
itu. Tiba-tiba, ia melihat benda kecil di sisi pintu penghubung ruangan guru
dengan ruang Pak Kepala Sekolah. Ternyata sobekan kain. Sepertinya terkait di
paku yang agak menonjol keluar. Bobi mengambilnya dan memasukkannya ke dalam
sakunya.
Pagi itu, sekolah Bobi gempar. Polisi melakukan
penyelidikan. Pak Wahid ditanya-tanyai dan dibawa ke kantor polisi. Menurut
kabar, Pak Wahid dijadikan tersangka. Semua pintu tidak ada yang rusak. Berarti
Pak Wahid yang harus bertanggung jawab, sebab hanya dia yang memegang kunci.
Hari itu, sekolah akhirnya diliburkan. Seluruh murid
diminta pulang ke rumah masing-masing. Setiba di rumah, Bobi teringat pada
sobekan kain temuannya tadi. Saat sedang mengamatinya, tercium wangi parfum
dari kain sobekan itu. Bobi mencoba memecahkan misteri. Namun karena kelelahan,
ia pun jatuh tertidur.
Esok harinya, Bobi berjalan kaki menuju sekolahnya. Ia
melewati warung Bu Emi di samping sekolah. Pada saat itu, ia mencium wangi
parfum yang menyengat. Bobi jadi teringat pada sobekan kain temuannya. Wanginya
sama. Bobi akhirnya balik lagi ke warung Bu Emi, pura-pura membeli gorengan.
Ternyata, wangi parfum itu berasal dari seorang pemuda di warung itu. Pemuda
itu sedang duduk sambil minum kopi di warung Bu Emi.
Hari itu, selama pelajaran berlangsung, Bobi tidak bisa
konsentrasi. Ia terus memikirkan pemuda itu. Ketika bel pulang berbunyi, Bobi
cepat-cepat keluar kelas dan langsung pulang. Ia mengambil sobekan kain
temuannya dan menciumnya sekali lagi. Tidak salah lagi, wanginya sama,
batinnya.
Bobi segera menelepon Om Doni dan bercerita tentang
pemuda di warung Bu Emi. Ketika Om Doni datang, Bobi menyerahkan sobekan kain
tadi.
“Bobi, lain kali kamu tidak boleh mengambil benda-benda
di tempat kejadian. Benda sekecil apa pun, bisa dijadikan petunjuk. Benda ini
bisa mengungkap kebenaran sehingga polisi tidak salah menangkap orang,” pesan
Om Doni.
Bobi mengangguk menyesal. Setelah mengajukan beberapa
pertanyaan lagi pada Bobi, Om Doni lalu pulang.
Dua hari kemudian, saat pulang sekolah, Bobi melihat
kejadian mengejutkan. Dua polisi berpakaian preman meringkus pemuda berparfum
itu di warung Bu Emi. Di warung itu, juga ada Pak Kepala Sekolah yang terlihat
gelisah. Bobi jadi penasaran ingin tahu apa yang terjadi.
Untunglah, sore itu, Om Doni berkunjung ke rumah Bobi. Om
Doni pun bercerita. Pemuda harum itu bernama Beno. Ternyata ia anak Pak Kepala
Sekolah yang kuliah di kota. Gara-gara kecanduan narkoba, dia mencuri untuk
membeli narkoba. Beno sering main ke rumah Pak Wahid dan tahu tempat Pak Wahid
menyimpan kunci ruangan sekolah.
Setelah mengambil kunci itu, Beno membuat kunci palsunya.
Ia lalu mengembalikan kunci asli ke tempatnya, sehingga Pak Wahid tidak curiga.
Malam harinya, dia membuka ruang guru dan ruang kepala sekolah dengan mudah.
Pak Wahid akhirnya bisa di bebaskan. Bobi sangat senang.
Berarti dia bisa bertemu lagi dengan sahabatnya itu. Pak Wahid selalu
menemaninya di pagi hari, di saat teman-temannya belum datang.
Sumber:
Majalah Bobo edisi 42, tahun XXXVIII
Label: Cerita Anak, Detektif, Sekolah